WISATA LORE PEORE

WISATA LORE PEORE

Menu

WISATA MEGALITIK WATUNONGKO DAN DESA WATUTAU

  Makna di Balik Nama Desa Watutau

  Menurut  Tuan Antonie pada tahun 1984 yang melakukan riset selama satu bulan di Desa Watutau, nama "Watutau" berasal dari dua kata lokal: "watu" yang berarti batu, dan "tau" yang berarti manusia. Dengan demikian, nama Watutau dapat diartikan sebagai " Batu menyerupai manusia".

    Nama desa ini awalnya adalah Desa Raba, yang diyakini sebagai peninggalan dari Kerajaan Raba, kerajaan tertua di wilayah Lore, Sulawesi Tengah. Nama desa kemudian berubah menjadi Watutau karena banyaknya peninggalan megalitik yang ditemukan di sana.

  Peninggalan Megalitik dan Kepercayaan Lokal

    Desa Watutau dikenal sebagai situs yang menyimpan banyak peninggalan megalitik dengan bentuk dan makna simbolis yang kaya. Beberapa di antaranya meliputi: Watunongko: Batu panjang yang diyakini memiliki nilai spiritual. Permandian Sang Ratu: Batu yang menyerupai tempat mandi, dipercaya sebagai tempat mandi para Ratu zaman dahulu. Batu Laki-Laki dan Perempuan: Dua batu yang saling berhadapan, melambangkan keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin.Watumeroko: Batu yang menyerupai manusia sedang merokok, kemungkinan besar merupakan hasil alami namun dimaknai secara budaya sebagai sosok manusia yang dikutuk atau dibekukan dalam waktu.

  Kerajaan Raba: Peradaban Tertua di Asia Tenggara?

    Berdasarkan cerita lokal dan beberapa teori peneliti, Pulau Sulawesi diyakini sebagai salah satu pusat peradaban awal di Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh keunikan flora dan fauna, seperti anoa, yang hanya ditemukan di Sulawesi dan tidak ada di negara lain. Kerajaan Raba yang pernah berdiri di wilayah ini diyakini sebagai salah satu kerajaan tertua, bahkan sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Zaman Batu dan Suku-Suku di Dataran Lore Perkembangan zaman batu di Dataran Lore terbagi menjadi dua tahap:

  1. Zaman Batu Kasar
  2. Zaman Batu Halus

Di wilayah Lore, terdapat tiga suku besar:

    Suku Pekurehua: Mewakili zaman batu kasar, di mana peralatan masih sederhana dan belum terlalu terampil. Suku Behoa dan Bada: Mulai memasuki zaman batu halus, di mana masyarakat sudah mulai terampil mengolah batu menjadi bentuk megalitik seperti peti batu dan arca. Sampai saat ini, para peneliti dan warga setempat masih belum mengetahui secara pasti alat atau teknologi apa yang digunakan untuk membuat batu-batu megalitik yang sangat presisi tersebut.

 Watutau: Desa Tertua di Dataran Lore

    Pada tahun 1907, Desa Watutau tercatat sebagai desa tertua di dataran Lore. Meski pernah menjadi hutan lebat selama ratusan tahun, berbagai peninggalan megalitik di desa ini masih bisa ditemukan hingga kini.

 Tomini dan Rempah-Rempah Sulawesi Tengah

    Nama Sulawesi Tengah dahulu dikenal dengan sebutan Tominibox, yang dalam istilah suku Bada berarti Teluk Tomini. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah yang penting bagi bangsa Eropa, terutama Belanda. Bahkan, kelapa yang dibawa ke Belanda berasal dari wilayah Tominibox. Baru pada abad ke-20, wilayah ini mulai diduduki secara administratif oleh Belanda, bersamaan dengan masuknya pendidikan dan dokumentasi sejarah secara lebih luas.

Pendidikan di Indonesia dan Masuknya Monumen Sejarah

    Selama masa penjajahan selama 350 tahun, wilayah seperti Kalimantan, Sumatra, dan Jawa lebih dahulu mengenal pendidikan. Sementara itu, wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi, baru secara resmi mendapatkan akses pendidikan pada tahun 1999. Masuknya pengaruh Inggris ke Indonesia terjadi saat Kerajaan Kertanegara berkuasa. Di masa inilah banyak monumen-monumen dan situs sejarah mulai dikenali dan diresmikan.

Sejarah Watunongko

    Menurut Ngkai Lilo Situs Megalitik Watunongko, Lore Utara, Kabupaten Poso, merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang melegenda. Nama Watunongko berasal dari kata “watu” (batu) dan “nongko” (mengintip), merujuk pada cerita rakyat tentang sebuah arca batu yang berdiri di bukit dengan posisi seolah sedang mengintip seorang ratu yang mandi. Arca tersebut menjadi ikon penting masyarakat Napu, namun sayangnya hilang dicuri pada tahun 1990-an sehingga keberadaannya hingga kini masih misterius. Dan yang masih tersisa hanyalah batu permandian sang ratu, Meski demikian, kisah dan nilai budaya yang melekat padanya tetap hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas lokal.


LOKASI

wisata watungko ini berlokasikan di desa Watutau ,Kecamatan Lore Peore

X