WISATA LORE PEORE

WISATA LORE PEORE

Menu

WISATA BUKIT MPOLENDA

Sejarah Wisata Bukit Mpolenda

Monumen Raja Kabo: Simbol Sejarah dan Budaya di Desa Wanga

    Monumen Raja Kabo yang terletak di Desa Wanga, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu ikon wisata sejarah yang dibangun untuk mengenang jejak budaya dan tokoh penting masa lalu. Pembangunan monumen ini dimulai pada tahun 2018 dan diresmikan pada tanggal 7 Februari 2019 oleh Bupati Poso. Awalnya, mantan kepala desa memiliki keinginan untuk membangun patung Tuhan Yesus di atas bukit agar dapat memanfaatkan keindahan padang yang mengelilingi Desa Wanga. Namun, seiring berjalannya waktu, gagasan tersebut berkembang menjadi ide pembangunan monumen sejarah, mengingat posisi strategis Wanga sebagai pusat kawasan Lore pada masanya.

    Monumen ini didirikan bukan hanya sebagai penanda tempat, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya nilai-nilai budaya dan sejarah masa lampau, khususnya mengenai Raja Kabo, salah satu tokoh penting yang dahulu memimpin wilayah ini. Raja Kabo awalnya memerintah di Desa Watutau, tepatnya di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kemba, yang berlokasi di belakang Gereja GTM kawasan permukiman suku Peore Hora. Karena adanya dinamika sosial dan pemberontakan saat itu, wilayah Wanga kemudian disurvei dan dinilai layak untuk dijadikan lembah permukiman baru.

    Pada tahun 1923–1924, survei tersebut membuahkan hasil dan Desa Wanga secara resmi ditetapkan sebagai desa pada tahun 1925. Raja Kabo, bersama pengikut dan keluarganya, turut berimigrasi dan menetap di Wanga. Sejak saat itu, Desa Wanga menjadi pusat pemerintahan lokal, menjadikannya sebagai pusat kegiatan masyarakat dan simbol keberlangsungan peradaban di kawasan Lore.

    Keinginan kuat masyarakat dan pemerintah desa untuk mengenang keberadaan Raja Kabo yang kini hanya tersisa makamnya mendorong pembangunan Monumen Raja Kabo bersama permasurinya. Monumen ini kini menjadi salah satu objek wisata sejarah dan budaya yang tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga nilai historis yang mendalam bagi masyarakat Lore poere dan sekitarnya.

Rumah Adat Tambi

Rumah adat Tambi adalah rumah tradisional yang berasal dari Tampo Lore, sebuah wilayah yang terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Rumah adat ini memiliki ciri khas berupa bentuk panggung, di mana struktur atas rumah sekaligus berfungsi sebagai dinding, menjadikannya unik dan sangat representatif dari budaya masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Rumah adat Tambi tidak hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya yang berkembang di kalangan suku-suku yang mendiami Lembah Lore, seperti suku Pekurehua (Napu), Bada, dan Behoa.

Bentuk rumah adat Tambi yang menyerupai segitiga memiliki makna filosofis yang mendalam, di mana segitiga tersebut melambangkan dua relasi horizontal yang merupakan dasar atau alas dari segitiga. Relasi horizontal ini menggambarkan hubungan yang erat dan harmonis antar sesama manusia, yang menjadi pondasi utama dalam kehidupan sosial masyarakat adat di Lembah Lore. Selain itu, segitiga juga memiliki simbolisme sebagai lambang kesatuan dan keseimbangan, yang mencerminkan cara hidup masyarakat yang menjunjung tinggi gotong royong, saling menghormati, dan menjaga hubungan yang baik dalam komunitas.

Sebagai rumah adat yang telah diwariskan turun-temurun, rumah Tambi juga memiliki peran penting dalam mempertahankan tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat. Struktur rumah yang dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti kayu dan bambu, serta teknik pembangunan yang sangat memperhatikan faktor lingkungan, menunjukkan bagaimana masyarakat adat di daerah ini memiliki keterikatan yang kuat dengan alam sekitar. Selain sebagai tempat tinggal, rumah Tambi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya, seperti pertemuan adat, upacara keagamaan, dan acara penting lainnya dalam kehidupan masyarakat.

Keberadaan rumah adat Tambi juga menjadi simbol dari identitas dan kebanggaan budaya masyarakat Tampo Lore dan suku-suku lainnya di Lembah Lore. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, rumah adat Tambi tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang tak ternilai, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, yang terus menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai leluhur mereka.

Lokasi 

        Desa Wanga adalah salah satu desa yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Nama "Wanga" berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa daerah, yaitu Wa yang berarti "kepala" dan Nga yang berarti "burung belibis". Nama ini memiliki makna filosofis yang mendalam dan diyakini mencerminkan karakter atau nilai-nilai tertentu yang dihormati oleh masyarakat setempat, seperti kepemimpinan, ketangguhan, dan keanggunan, sebagaimana burung belibis yang dikenal lincah namun tetap anggun di alam liar.

        Desa Wanga memiliki sejarah yang panjang dan penting dalam konteks budaya dan pemerintahan adat di wilayah Lore. Desa ini pertama kali berdiri pada tahun 1923, ketika seorang bangsawan terkemuka bernama Roro Manemba, bersama para pengikutnya, memutuskan untuk meninggalkan Desa Watutau dan menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Wanga. Perpindahan tersebut bukan hanya merupakan perpindahan tempat tinggal biasa, tetapi juga membawa serta tatanan adat, nilai-nilai budaya, dan sistem kepemimpinan tradisional yang kemudian membentuk fondasi kehidupan sosial masyarakat Wanga.

        Dua tahun setelah kedatangan Roro Manemba, pada tahun 1925, pemerintah kolonial Belanda secara resmi menetapkan Wanga sebagai sebuah desa administratif. Penetapan ini memperkuat kedudukan Wanga, tidak hanya sebagai pemukiman baru, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan adat yang sangat berpengaruh di wilayah Lore. Wanga kemudian dijadikan sebagai tempat kedudukan Magau Lore, gelar tradisional bagi pemimpin tertinggi dalam sistem pemerintahan adat di Lembah Lore.

        Selain menjadi pusat kekuasaan Magau Lore, Desa Wanga juga berperan sebagai ibu kota pemerintahan Magau Kabo, sebuah struktur pemerintahan adat yang memiliki pengaruh luas dalam masyarakat setempat. Dalam struktur ini, Roro Manemba didampingi oleh seorang permaisuri yang bernama Mpolite Abu, seorang tokoh perempuan yang dihormati dan dikenal memiliki peran penting dalam mendukung pemerintahan serta menjaga stabilitas sosial dan adat di kalangan masyarakat.

        Sejak saat itu, Desa Wanga tumbuh dan berkembang sebagai salah satu desa yang memiliki nilai historis, budaya, dan politik yang tinggi di wilayah Lore Peore. Hingga kini, warisan budaya dan sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhur, termasuk sistem pemerintahan adat Magau dan nilai-nilai luhur yang mereka junjung, masih hidup dan dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat. Desa Wanga bukan hanya sekadar sebuah pemukiman, tetapi juga simbol keberlanjutan tradisi dan identitas masyarakat Lore yang kaya akan sejarah dan kearifan lokal.

X